DAMPAK PSIKOSOSIAL KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

YKAPOTA : Tindak kekerasan dalam rumah tangga pasti sudah sering kita lihat dalam berbagai bentuk di media massa. Mungkin itu sudah terjadi di lingkungan kita. Lantas apa yang telah kita lakukan terhadap mereka?

Sepasang kekasih umumnya atas nama cinta memutuskan untuk terikat dalam ikatan perkawinan sehingga mereka dapat lebih dalam mengekspresikan rasa cintanya. Saling menyayangi, menghormati, memahami dan memberi perhatian. Sayangnya tidak semua pasangan berhasil menjalin kerja sama yang baik sehingga timbul tindak kekerasan dalam rumah tangga. Kekerasan dalam rumah tangga adalah tindak penganiayaan secara fisik, psikologis/emosional yang di lakukan oleh orang dalam satu keluarga sehingga melukai anggota keluarga yang lain. Hal ini bisa terjadi antara suami terhadap isteri atau orang tua terhadap anaknya.

Berdasarkan hasil pengamatan, korban-korban kekerasan dalam rumah tangga terbanyak adalah wanita. Kondisi inilah yang menyebabkan isu kepentingan perempuan menjadi lebih kuat dan perioritas. Pemahaman dan penempatan perempuan dalam masyarakat juga membuat batasan sangat sumir sehingga masyarakat dilingkungannya tidak berani intervensi. Paling-paling usaha mendamaikan. Setelah itu persoalan dianggap selesai. Padahal kekerasan merupakan kejahatan pidana.

          Apa saja bentuk-bentuk kekerasan dalam rumah tangga ?

1. Kekerasan fisik seperti menendang, memukul bahkan sampai membunuh, memaksa istri melakukan aborsi dan lain-lain yang menyebabkan rusaknya organ tubuh sampai pada kematian.

2. Kekerasan psikologis/emosional seperti berselingkuh, merendahkan pasangan, mengisolasi atau membatasi gerak sosial, mengambil alih keputusan sampai mengancam tanpa toleransi. Dampak pada pasangannya sakit hati, rendah diri, tidak berguna, terkekang, depresi, bahkan sampai mengalami gangguan jiwa berat.
3. Kekerasan ekonomi ditunjukkan dengan tidak adanya perasaan kesatuan atau rasa saling memiliki sehingga salah satu pihak menjadi tergantung secara ekonomi. Dampaknya luas sekali, karena tidak bisa mengelola keuangan dan tergantung, maka kehidupan dan kesehatannya menjadi tergantung.

4. Kekerasan sexsual, yaitu memaksa melakukan hubungan sexsual sebagai pemuas kebutuhan biologis suami tanpa memperdulikan kondisi isteri. Misalnya pada kondisi premenstrual syndrome atau menopause yang mengakibatkan isteri kesakitan. Ada juga isteri yang dipaksa oleh suami untuk melayani laki-laki lain dengan menerima imbalan uang.

       Nilai-nilai kultural kita secara gender sedemikian kuat mengakar dalam masyarakat sehingga di segala bidang mempengaruhi terjadinya perlakuan dan diskriminasi serta kekerasan terhadap perempuan. Pandangan ini juga menyebabkan kesempatan memperoleh pendidikan baik formal maupun non formal perempuan lebih rendah sehingga mereka lebih mungkin mengalami kekerasan.

Pandangan dalam kebudayaan kita menganggap bahwa laki-laki adalah kepala keluarga dan pencari nafkah. Maka secara ekonomi suami adalah penguasa, sedangkan isteri adalah ibu dan mengurus rumah tangga. Tergantung pada suami, harus pandai membahagiakan suami, tidak boleh menolak keinginan suami. Secara status sosial ekonomi isteri lebih rendah dari suami. Pandangan ini melahirkan motis bahwa perempuan adalah makhluk lemah, sehingga perempuan lebih banyak menjadi korban penderitaan. Pandangan lain mengatakan suami mempunyai hak penuh atas diri isterinya, oleh karena itu isteri harus selalu patuh pada keinginan suami termasuk keinginan sexsual. Isteri tidak mempunyai kontrol terhadap tubuhnya sendiri meski dalam keadaan sakit sekalipun. Dari segi hukum perempuan sebagai korban kekerasan dalam rumah tangga juga mengalami diskriminatif. Pada banyak kejadian bila isteri memilih menempuh jalur hukum pidana bagi suami yang melakukan penganiayaan, oleh masyarakat justru dianggap melakukan kesalahan sehingga perempuan menjadi merasa bersalah bahkan jatuh kasihan pada suami yang mendapat hukuman pengadilan.

        Oleh karena itu kita sebagai anggota masyarakat diharapkan bekerja sama dengan berbagai pihak yang di butuhkan (bidang pendidikan hukum, politik, ekonomi, kesehatan atau media massa) untuk membantu korban dengan jalan :
1. Melakukan upaya kuratif (pengobatan) dengan melakukan pelayanan pendampingan dan pembelaan terhadap korban.

2. Melakukan upaya preventif (pencegahan) dengan meningkatkan usaha perbaikan tindakan dan pemikiran yang bias gender serta meningkatkan pemberdayaan perempuan sehingga mereka lebih memahami tentang keberadaan mereka.

by : Koptu Jamal Umar