Sejarah Hubdam VII/Wirabuana

LINTASAN SEJARAH PERIODE TA. 1950 s/d 1968

1. Lintasan Sejarah. Sejarah perkembangan dan pertumbuhan Perhubungan Angkatan Darat dalam wilayah Indonesia bagian Timur dengan basis Komandonya yang berkedudukan di Makassar pada periode 1950 s/d 1968.

a. Pada tahun 1950 bagi TNI adalah suatu masa konsolidasi dan reorganisasi. Pembentukan APRIS yang berintikan TNI ditambah dengan ex anggota KNIL selain membawa masalah-masalah teknis militer juga mempunyai pengaruh dibidang politik dan psikologis. Dalam rangka pembentukan Komando-Komando Militer maka pemerintah menetapkan Gubernur Militer di Jawa, untuk Indonesia Timur ditunjuk Letkol A. Y. Mokoginta sebagai wakil koordinator keamanan, berdasarkan penetapan Menteri Pertahanan No 12 / MP / 50 tanggal 5 januari 1950 ditetapkan seluruh wilayah Indonesia kecuali Irian Barat, dibagi dalam 11 Teritorum termasuk Sulawesi dan Maluku.

Kemudian berdasarkan surat penetapan Kasad No 83 / KASAD / PNT / 50 tanggal 20 Juni 1950 jumlah Teritorium dari 11 dirubah menjadi 7 Teritorium sedangkan Indonesia bagian Timur ditentukan sebagai Terotoriom VII/Wrb dengan Panglimanya Kolonel Kawilarang yang berkedudukan di Makassar dan ditetapkan pula Kapten Chb A. Supit sebagai Komandan PHB pertama yang berkedudukan di Makassar. Berdasarkan surat keputusan Kasad No. 830/A/MBSA/1950 tanggal 1 Pebruari 1950 tentang penetapan personil PHB yang diorganikkan pada CPHB DET- 70 yang tersebar di wilayah Indonesia Timur berjumlah 859 orang terdiri dari Pa, Ba dan Ta.

b. Dalam rangka menuju kesempurnaan organisasi dan untuk memudahkan pengendalian komando maka Komando Teritorium VII/Wrb membentuk Komando- Komando Pasukan ( Kompas) yang terdiri dari :

1) Kompas A di Bone meliputi Sulawasi Selatan, Tenggara dan sebagai Komandan Letkol Soekowati, selanjutnya berubah menjadi Resimen If 23.

2) Kompas B di Manado meliputi Sulawesi Utara dan Tengah. Sebagai Komandan Letkol Warouw, selanjutnya berubah menjadi Resimen If 24.

3) Kompas C di Kupang meliputi daerah Nusa Tenggara, sebagai komandan Letkol Kokasih, selanjutnya berubah menjadi Resimen If 25.

4) Kompas D di Ambon meliputi daerah Maluku dan Irian Jaya (sementara di Makassar), sebagai komandan sementara dipegang langsung oleh Komandan Operasi ( Panglima TT VII/IT ) Kolonel A. E. Kawilarang, selanjutnya berubah menjadi Resimen If 26.

Untuk pelayanan komunikasi bagi Komando-Komando pasukan, oleh Komandan CPHB DET 70, menempatkan sub – sub Det PHB pada tiap- tiap Kompas sbb :

1) Sub Det PHB Kompas “A” di Bone, Komandan Letnan Dua Chb Wiryo Kusudko NRP 13196 dengan anggota sebanyak 33 orang.

2) Sub Det PHB Kompas “B” di Manado, Komandan Letnan Dua Chb Abd. Rifai Mangkulla NRP 13197

3) Sub Det PHB Kompas “C” di Kupang, Komandan Letnan Dua Chb A. R. Yunus NRP 13198

4) Sub Det PHB Kompas “D” di Ambon, Komandan Letnan Dua Chb Soegito

Dengan adanya perkembangan struktur organisasi TNI- AD semakin lama semakin sempurna, demikian pula dengan struktur organisasi HUB-AD yang tadinya, SUB DET PHB menjadi Kompi Perhubungan sbb :

1) PHB Kompi 71 dibawah Komando Resimen If – 23 di Bone.

2) PHB Kompi 72 dibawah Komando Resimen If – 24 di Mando.

3) PHB Kompi 73 dibawah Komando Resimen If – 25 di Ambon.

4) PHB Kompi 74 dibawah Komando Resimen If – 26 di Denpasar

5) PHB Kompi 75 dibawah Komando KMKB di Makassar.

c. Pembentukan Korem.

1) Berdasarkan Radiogram Menteri Panglima AD (Men Pangad) No T-2867/1962 tanggal 8-11-1962 tentang pembentukan 3 (tiga) Korem dalam wilayah Sulawesi Selatan Tenggara sbb :

a) Komando Resort Militer ( Korem ) 141 di Watampone sebagai Komandan adalah Mayor Inf Andi Lantara dan sebagi Komandan PHB Lettu Chb Andi Priatna.

b) Korem 142 di Pare- Pare, sebagai Komandan Mayor Inf Andi Abd. Rachman dan Komandan PHB Lettu Chb Sadar Turdi Nrp 217975.

c) Korem 143 di Kendari, sebagai Komandan Mayor Inf Rostan Kusumadjaya dan Komandan PHB Lettu Chb Kadma Nrp 210860.

d) Komando Militer Kota Besar ( KMKB) Makassar sebagai Komandan Mayor Inf Syamsuddin dan Komandan PHB Lettu Chb Yan Sangir NRP 208897.

2) Sesuai perkembangan struktur organisasi untuk wilayah Sulawesi Utara dan Tengah terbentuk 2 Korem masing- masing :

a) Korem 131 yang berkedudukan di Manado.

b) Korem 132 yang berkedudukan di Palu.

2. Pimpinan / Pejabat Hubdam VII/Wrb. Pimpinan / pejabat untuk periode tahun 1950 s/d 1972 adalah sebagai berikut :

a. Sulawesi Selatan Tenggara.

1) Tahun 1950 s/d 1956, Komandan CPHB Det-70/ TT VII IT adalah Kapten Chb. A.Supit NRP 13187.

2) Tahun 1956 s/d tahun 1957, Komandan CPHB Bn-7/TT VII/Wirabuana adalah Kapten Chb B. Pantas Nrp 13243.

3) Tahun 1957 s/d tahun 1958, Komandan PHB KDM SST adalah Kapten Chb Manorek Nrp 13189.

4) Tahun 1958 s/d tahun 1961, Komandan PHB KDM SST adalah Kapten Chb Waliman Nrp 13251.

5) Tahun 1961 /d tahun 1965 Perwira Hubdam XIV/Hasanuddin adalah Mayor Chb Heru Soebagio Nrp 13247.

6) Tahun 1965 s/d tahun 1972 Kepala Hubdam XIV/Hasanuddin adalah Letkol Chb Djoko Katamso Nrp 21206.

b. Sulawesi Utara Tengah.

1) Tahun 1958 s/d tahun 1959 Komandan PHB KDM SUT adalah Kapten Chb Marsuki.

2) Tahun 1959 s/d 1961 Komandan PHB KDM SUT adalah Mayor Chb Siregar.

3) Tahun 1961 s/d tahun 1963 Perwira Hubdam XIII / Merdeka adalah

Mayor Chb Harsono.

4) Tahun 1963 s/d tahun 1966 Perwira Hubdam XIII/Merdeka adalah Mayor Chb Marsaid.

5) Tahun 1966 s/d 1972 Perwira Hubdam XIII/Merdeka adalah Letkol Chb Maeria. S

3. Personel. Berdasarkan Surat Keputusan Kasad No.830/A/MBSA/1951 tanggal 1 Pebruari 1951, personel yang masuk Organik CPHB Det-70 berjumlah 859 orang terdiri dari Pa, Ba, Ta yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia Timur yang berasal dari :

a. PHB Brigade-16 sebagai inti.

b. PHB Brigade-1 (S. Sukawati).

c. PHB Batalyon-17 (Abdullah)

d. PHB Batalyon-26 (Magenda)

e. PHB Batalyon-31 (Wachman)

f. PHB Batalyon (Mattalatta)

g. PHB Batalyon (Worang)

h. PHB Batalyon (Bohar)

i. PHB Batalyon (Paliyama)

j. PHB Batalyon (Erangjangan)

k. PHB Batalyon (Pancasila)

l. PHB Ex KNIL (Masuk TNI)

Personel ini ditempatkan masing-masing pada Markas CPHB DET-70,1 (satu) Kompi tiap Ko Pasukan (Kompas),1 (satu) Peleton tiap Batalyon.

4. Material. Pada awal tahun 1950 seluruh wilayah Indonesia timur dikuasai oleh Tentrara Nasional Indonesia Komandan CPHB DET-70 (Kapten A. Supit) telah menerima penyerahan alat peralatan Komunikasi dari Tentara Belanda sebagai berikut :

a. Pesawat Radio

1) Pemancar : BC-610, BC-375, BC- 191, TDE-2, TBM-8, AWA-13, AWA-133, AWA-150.

2) Carima : SCR-284, TCS-12, TCS-6, WS-22, WS-19, WS-18.

3) Penerima : BC-224, BC-312, BC-342, BC-348, R-110, Hammerlound, Hally Krafter.

b. Pesawat Telepon.

1) Sentral/WB : UC-10, UP-10, BD-71, BD-72, BD-91/6, BD-91/12.

2) Pesawat Telepon : TP-28, Kellog, Bell, EE-8 A, EE-8 B, DMK 1 s.d DMK 5

c. Generator/Charging Set : PE-95 10 KVH, PE-75 7,5 KVA, Charging Set 288 WAT YAP, Charging Set 300 Watt 1 Ron, Home Light 1,5 Watt.

d. Gudang Alat Komunikasi

1) Gudang penyempurnaan pesawat radio dan perlengkapan terletak dijalan Rumbia (sekarang perempatan Jl. Irian- Jl. Seram).

2) Gudang penyimpanan pesawat telepon dan perlengkapannya terletak di Jl. Mardekaya ( komp PTT) sekarang Jl. G. Latimojong.

Pada tahun 1952 seluruh alat peralatan radio dan telepon yang ada pada Gudang Jl. Rumbia dan Mardekaya dipindahkan ke Markas CPHB DET-70 Jl. Sambung Jawa (Jl. Cenderawasih) sampai sekarang ini.

5. Darma Bhakti. Kegiatan-kegiatan Darma Bhakti periode tahun 1950 s.d tahun 1968 dalam rangka penumpasan terhadap Gerombolan Pengacau Negara (RMS di Maluku, DI/TII di Sul-selra, Permesta di Sulut, OPM di Irian Jaya).

a. Tahun 1950 Operasi RMS di wilayah Maluku, Komandan PHB Lettu Chb J. Manorek dengan menggunakan pesawat radio BC- 375, SCR- 284, WS- 22, WS- 19, dalam operasi ini seorang anggota PHB gugur adalah Sersan Soebari Nrp 208908.

b. Memberikan dukungan komunikasi dalam rangka Operasi penumpasan gerombolan Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan Tenggara dengan nama “Operasi Halilintar “ tahun 1952 di bawah pimpinan Kas TT VII Letkol Inf Y. F. Warrouw.

c. Operasi Merdeka. Operasi terbagi dalam beberapa macam operasi sesuai dengan daerah tugasnya :

1) Operasi “ Sapta Marga I “ tanggal 10 Mei 1985 di daerah Sulawesi Tengah (Palu, Donggala )

2) Operasi “ Sapta Marga II “ tanggal 23 Mei 1985 di daerah Gorontalo dan sekitarnya.

3) Operasi “ Sapta Marga III “ di daerah Sangir talaud serta “ Sapta marga IV” yang merupakan inti dari Operasi Merdeka.

Dari operasi tersebut di atas tidak sedikit andil warga Perhubungan. Selain tugas pokoknya berusaha mencari hubungan dengan Sat Ping KKO / AL yang memegang semua komunikasi selama pendaratan, mendirikan stasiun khusus di Kauditan untuk dapat berhubungan langsung dengan Pangkalan Udara Morotai, menginstalir pesawat collins di Bitung untuk hubungan dengan Mabad Jakarta.

d. Dukungan komunikasi pada Operasi Guntur di daerah Palopo Selatan, sebagai Dan Ton Hub adalah Serma D. Kawilarang Nrp 209391 dengan menggunakan Alkom : SCR- 694, P- 22, WS- 31, SUA- 21K, dalam operasi ini seorang anggota PHB gugur adalah Prada Umar Nrp 209205.

e. Tahun 1964 terjadi peristiwa Pinrang. Team PHB yang mengikuti rombongan Panglima Kodam XIV/ Hn dipimpin oleh Pa Hub Mayor Chb Heru Soebagio dengan menggunakan Gaz komando dilengkapi dengan pesawat radio GRC/ 9 dengan 2 operator dan seorang pengemudi sbb :

1) Anwar Marang Sersan sebagai Operator.

2) Bunna Kopral sebagai operator.

3) Muhaji Sersan sebagai pengemudi.

Dalam peristiwa tersebut terjadi tembak menembak antara pasukan Andi Selle Mattola dengan rombongan Pangdam XIV/ Hn, sehingga gugur Komandan Cpm Letkol Cpm Soegiri, sedangkan Pangdam ( Kolonel M. Yusuf ) dapat diselamatkan oleh team PHB dengan kendaraan Gaz Komando ke Pare- Pare.

f. Operasi Kilat. Komando Operasi Kilat, masing- masing tingkat Komando dibagi dalam Posko Tetap dan Posko Mobil.

1) Posko Tetap berkedudukan di Pare-Pare dan sebagai pimpinan adalah Mayor Chb Heru Soebagio NRP 13247.

2) Posko Mobil berkedudukan di Sulawesi Tenggara ( Kolaka Utara ) dan sebagai pimpinan adalah Lettu Chb Soekatman NRP 317348.

Dalam operasi tersebut pada tanggal 3 Februari 1965 jam 06.30, Peltu Komar Dan Ton Ki D Yon 330 Para berhasil menembak mati Kahar Muzakkar.

g. Penugasan Irian Barat. Pada tahun 1968 di Irian Barat muncul suatu organisasi pemerintahan diluar pemerintahan yang syah. Organisasi tersebut dikenal dengan Organisasi Papua Merdeka ( OPM ) di bawah pimpinan Mandacan dan Awon. Dalam rangka penumpasan Hubdam XIII/ Merdeka ikut memberikan dharma bhaktinya sbb :

1) Menugaskan satu team Hub yang tergabung dalam Yon Satgas Merdeka I pimpinan Capa Soeparto.

2) Menugaskan satu team Hub yang tergabung dalam Yon Satgas Merdeka II pimpinan Capa J. Pantow NRP 209170.

Pada tahun 1969 organisasi Papua Merdeka telah menaati panggilan pemerintah. Dalam rangka pengamanan turunnya dari hutan-hutan, maka ditugaskan satu tim Hub dari Hubdam XIII/ Merdeka pimpinan Letda Chb Soegiarto NRP 21239. Pesawat yang digunakan pada penugasan ini antara lain : AN-GRC/ 9, OKI dan HF- 156.

PERKEMBANGAN ORGANISASI PADA PERIODE 1969 s/d SEKARANG

6. Unsur Pimpinan. Dalam periode tahun tersebut di atas telah mengalami beberapa kali penggantian unsur pimpinan, baik yang ada di satuan Perhubungan Manado maupun yang ada di Makassar.

a. Pejabat Dan Yon / Ka Komlek / Ka Hubdam sbb:

1) Makassar.

a) 1950 – Kapten Chb A. Supit.

b) 1965 – 1971 Letkol Chb Djoko Katamso.

c) 1971 – 1976 Letkol Chb A. Soemanto.

d) 1976 – 1980 Letkol Chb Drs. Asyar.

e) 1980 – 1985 Letkol Chb Arwin Aritonang.

f) 1985 – 1987 Kolonel Chb Salamun Sedjati.

g) 1987 – 1991 Kolonel Chb Abdul Hadi.

h) 1991 – 1994 Kolonel Chb Baharudin R.

i) 1994 – 1995 Kolonel Chb Teguh Santoso.

j) 1995 – 1996 Kolonel Chb Djuwari Sarmyanto.

k) 1996 – 1999 Kolonel Chb Ir. Achmat Ansori. SH.

l) 1999 – 2002 Kolonel Chb Budhi Harianto.

m) 2002 – 2006 Kolonel Chb Ir. Abdul Rahim.

n) 2006 – 2009 Kolonel Chb Hermansyah.

o) 2009 sampai sekarang Kolonel Chb Mat Ali.

2) Manado.

a) 1966 – 1972 Letkol Chb Moeria. S.

b) 1972 – 1977 Letkol Chb E. Hundayana.

c) 1977 – 1982 Letkol Chb Sartono NRP 1983

d) 1982 – 1985 Letkol Chb A. Kadir NRP 1993.

b. Para Pejabat Waka Hub/ Komlek Dam sbb :

1) Makassar.

a) – Kapten Chb Ashari

b) 1969-1971 Mayor Chb A. Soemanto.

c) 1971-1976 Kapten Chb Asyar.

d) 1976-1980 Mayor Chb Hasyim Halid.

e) 1980-1981 Mayor Chb Drs Moh. Mochtar.

f) 1981-1985 Mayor Chb M. D. Bachri.

e) 1985 – 1989 Letkol Chb B. Hermoyo.

f) 1989 – 1990 Letkol Chb Mismar Anas.

g) 1990 – 1992 Letkol Chb Saudi Arsito.

h) 1992 – 1994 Tidak ada Pejabat Waka.

i) 1994 – 1997 Letkol Chb Surahman Kadir.

j) 1997 – 2002 Tidak ada Pejabat Waka.

k) 2002 Letkol Chb Hermansyah

l) 2002 – 2004 Tidak ada Pejabat Waka.

m) 2004 – 2006 Letkol Chb Hermansyah.

n) 2006 Sampai sekarang Letkol Chb Nur Salam.

2) Manado

a) 1972-1977 Mayor Chb Sartono

b) 1977-1982 Tidak ada pejabat Waka

c) 1982-1983 Mayor Chb wiyono

d) 1983-1985 Mayor Chb M. S. Barata

Dengan adanya reorganisasi TNI-AD, maka Kodam XIII/Mdk dan Kodam XIV /Hn dilebur menjadi Kodam VII/Wrb. Demikian juga antara Komlekdam XIII/Mdk dan Komlekdam XIV/Hn dilebur menjadi Hubdam VII/Wrb.

Sebagai pejabat Kahubdam VII/Wrb yang pertama adalah Letkol Chb Salamun Sedjati Nrp 19450 , sesuai surat keputusan Kasad No.Kep/494/VI/1985 tanggal 4 Juni 1985 sebagai Ps. Kahubdam VII/Wrb dan surat Keputusan Kasad No. Skep/106/II/1986 tanggal 4 Pebruari 1986 diangkat sebagai Kahubdam VII/wrb. Sebagai Waka Hubdam VII/Wrb adalah Letkol Chb B. Hermoyo Nrp 19995 sesuai surat Keputusan Kasad No. Skep/885/X/1985 tanggal 7 Oktober 1985.

7. Organisasi.

a. Struktur Organisasi Hubdam VII/Wrb, sebagai kelanjutan organisasi sebelum 1969 adalah sebagai berikut :

1) Unsur Pimpinan.

a) Kepala

b) Wakil Kepala

2) Unsur Staf.

a) Biro Intel Hub.

b) Biro Komunikasi.

c) Biro Materiil.

d) Biro Teknik.

e) Biro Foto Film.

3) Unsur Pelayanan Staf.

Kompi Markas.

4) Unsur Pelaksana.

a) Ki Yan Hub dam Ki Lat/Gan tingkat Makodam.

b) Hubrem untuk tingkat Korem.

c) Ki Mat di Mahubdam.

b. Dengan keluarnya struktur organisasi baru sesuai Surat Keputusan Pangad No. Kep-217/3/1969 tanggal 24-3-1969, maka dalam Triwulan II tahun 1971 unsur pelaksana Ki Yan Hub dan Ki Lat/Gan dilikwidasi dan dibentuk Den Hub Yah dan Ki Lat/Gan dilikwidasi dan dibentuk Den Hub Yah 41-01. Kemudian Ki Mat dilikwidasi dan dibentuk Benghub dan Gudhub.

c. Sebagai kelanjutan penyesuaian Surat Keputusan Pangad Nomor Kep-217/3/1969, maka dalam tahun 1972 unsur pelaksana ditingkat Korem dibentuk :

1) Denhubyah 41-02 berkedudukan di Makorem 141/Watampone, melipuuti wilayah korem 141.

2) Denhubyah 41-03 berkedudukan di Makorem 142 Pare-pare, meliputi wlayah Korem 142.

3) Denhubyah 41-04 berkedudukan di Makorem 143 Kendari, meliputi wilayah Korem 143 Sulawesi Tenggara.

4) Untuk Kodim-Kodim / Sub Den Hubdim – Sub Den Hubdim dan sebagian Buterpra dibentuk Pos Hub.

d. Surat Keputusan Pangdam XIV/Hn Nomor skep/0046/3/1972tanggal 23 Maret 1972 tenteng terbentuknya Kologdam XIV/Hn. Kologdam ini kelak sebagai badan pembina Materiil Angkatan Darat termasuk Matkomlek. Tindak lanjut pembentukan Kologdam maka Pangdam XIV/Hn mengeluarkan Surat Perintah Nomor Sprin-0940/7/1972 tanggal 24 Juli 1972 tentang pelimpahan unsur Gud Hub dan Beng Hub dimasukan dalam struktur organisasi Komat Kologdam XIV/Hn. Secara fisik perintah tersebut belum pernah dilaksanakan disebabkan karena :

1) Dengan penyerahan Beng Hub dan Gud Hub berarti mengubah Ortug Hubdam XIV/Hn khususnya yang menyangkut fungsi pembekalan dan pemeliharaan.

2) Sampai tanggal 30 Desember 1972 belum ada petunjuk pelaksanaan.

Akibat dari pembentukan Kologdam maka fungsi Bekhar yang seelumnya menjadi fungsi penuh Hubdam mulai + tahun1974, diadakan perubahan sbb :

1) Bekhar Alkompur diselenggarakan oleh Matdam.

2) Bekhar Alkomwil dan Sus diselenggarakan oleh Hub.

e. Sesuai Surat Keputusan Pangdam XIV/Hn No. Kep-0061/III/1973 tanggal 14 Maret 1973 tentang Ortug Hubdam XIV/Hn tersusun sbb :

1) Unsur Pimpinan.

a) Kepala Jawatan Perhubungan Kodam XIIV/Hn disingkat Kahubdam XIV/Hn.

b) Wakil Kepala Jawatan Perhubungan Kodam XIV/Hn disingkat Waka Hubdam XIV/Hn.

2) Unsur Staf.

a) Biro Intelijen Hub dan Pernika disingkat Ro Intel Hub dan Pernika.

b) Biro Komunikasi disingkat Ro Kom.

c) Biro Materiil disingkat Ro Mat.

d) Biro Teknik disingkat Ro Nik.

3) Unsur pelaksana Staf, unsur Tata Usaha dan Urusan Dalam disingkat Ortu dan Ud.

4) Unsur pelaksana.

a) Kompi pelayananan Perhubungan di tingkat Makodam.

b) Detasemen Perhubungan Wilayah di tingkat Makorem.

c) Kompi Perhubungan tempur Brigif.

5) Unsur pimpinan, unsur staf, unsur pelaksana staf dan Ki Hub Pur Brigif 11/Anoa sepenuhnya telah dilaksanakan sesuai dengan maksud Skep Pangdam

tersebut, sedangkan untuk Kompi pelayanan Perhubungan di Makodam berfungsi sebagaimana mestinya, tetapi organisasinya tetap menggunakan organisasi lama dengan sebutan Den Hub Yah 41-01. Karena dalam Surat Keputusan Pangdam XIV/Hn No Kep-0061/III/1973 tanggal 14 maret 1973 tersebut tidak mengatur organisasi Den Hub Wil di Korem-Korem, maka struktur organisasi Den Hub Wil tetap menggunakan struktur organisasi sesuai Skep Pangad No Skep-217/3/1969 tanggal 24 Maret 1969.

f. Sesuai Surat Keputusan Pangdam XIV/Hn No Kep-0638/II/1973 tanggal 21 Pebruari 1973 tentang organisasi Korem / Kodim, maka berdasarkan surat keputusan Pangdam No. Kep-0100/V/1973 tanggal 11 Mei 1973 telah dilaksanakan penempatan unsur-unsur Hub di Makorem 141,142,143. Karena tidak adanya persamaan pengertian antara pejabat-pejabat ditingkat korem dengan keputusan tersebut, maka uunsur-unsur Hub di Makorem pada kenyataannya tetap menjadi bagian dari Den Hubyah, baik dalam pembinaan Personel maupun dalam pelaksanaan tugas-tugasnya. Semestinya di Makorem ada Hubrem organik administratif Korem dengan jumlah personel 5 orang. Sedangkan Den Hub Wil merupakan badan pelaksana Hubdam yang diajukan diwilayah Korem.

g. Berdasarkan Surat Keputusan Pangdam XIV/Hn No.Skep/46/210/XI/1977 tanggal 25 Nopember 1977 telah dibentuk team Pam TK. “C” Hubdam XIV/Hn.

h. Berdasarkan Keputusan Kasad No.Kep/46/VII/1979 tanggal 9 Juli 1979, maka sebutan nama dan jabatan Kesatuan lama Hubdam XIV/Hn secara resmi telah diubah menjadi Jawatan Komunikasi dan Elektronika Kodam XIV/Hn, disingkat Komlekdam XIV/Hn sedangkan untuk Hubdam XIII/Merdeka berdasarkan Surat Perintah Pangdam XIII/Merdeka No.Sprin/334/4/1980 tanggal 7 Apil 1980, pada tanggal 9 Apil baru diadakan upacara penyesuaian perubahan nama dan jabatan Hubdam XIII/Mdk menjadi Komlekdam XIII/Mdk.

i. Perbedaan struktur organisasi sesuai Skep tersebut diatas dengan struktur organisasi sesuai skep Pangad Nomor Skep/ 217/III/1969 tangggal 24 Maret 1969 adalah pada :

1) Unsur Staf/Pelaksana Staf menjadi 3 (tiga) Biro ditamabah 1 Team.

a) Biro Umum.

b) Biro Intel Komlek Pernika

c) Biro Komlek.

d) Tim Pengaman

2) Unsur pelayanan menjadi 2, yaitu :

a) Set

b) Ton Ma

3) Badan Pelaksana Staf. Ada tiga badan dengan perubahan Ki Hub Pur secara organik administratif masuk Brigif, serta munculnya satuan monitoring observasi dan perang Elektronika disingkat Satnitob/Pernika dijabat oleh seorang Pamen. Untuk Denhubyan Makodam dan Denkomlek Wil masih tetap ada.

j. Dengan adanya likwidasi Jan Mat AD ditingkat pusat dan perubahan Matdam menjadi Paldam sesuai Surat Keputusan Kasad Nomor Skep / 533/X/1983 tanggal 3 Oktober 1983 maka Biro Alkomlek beserta jajaran dibawahnya yaitu gudang Alkomlek dan Bengkel Alkomlek beserta seluruh isinya (personel, alat peralatan) dilimpahkan ke Komlekdam XIV/Hn. Sejak saat itu struktur organisasi Komlekdam XIV/Hn bertambah dengan :

1) Biro Alkomlek.

2) Gudang Alkomlek.

3) Bengkel Alkomlek.

Dengan demikian fungsi bekhar Alkomlek baik untuk Pur, Wil maupun Sus sepenuhnyan menjadi tanggung jawab Komlekdam.

k. Reorganisasi Kodam XIII/Mdk dan Kodam XIV/Hn. Guna meningkatkan kemampuan operasional Satuan Satuan TNI AD maka perlu dibentuk Satuan satuan kecil tetapi efektif. Untuk mewujudkan rencana tersebut, oleh pimpinan AD mengeluarkan Perintah Operasi Nomor 01/1984 tanggal 22 September 1984 tentang pelaksanaan reorganisasi TNI AD. Sebagai tindak lanjut Prinop 01 antara lain, Kodam Kodam dilebur dari 16 Kodam menjadi 9 Kodam kepulauan dengan organisasi dan tugas Kodam sesuai Keputusan Kasad Nomor Kep/4/I/1985 tanggal 12 Januari 1985.

Dengan keluarnya Keputusan Kasad tersebut maka Kodam XIII/Mdk dan Kodam XIV/Hn dilebur menjadi satu, selanjutnya disebut menjadi Kodam VII/Wrb dan diresmikan oleh Kasad pada tanggal 3 Mei 1985. Komlekdam XIV/Hn dan XIII/Mdk dibubarkan dan dibentuk Hubdam VII/Wrb dengan Organisasi dan tugas sesuai Keputusan Kasad Nomor : Kep/67/IX/1985 tangggal 18 September 1985. Berdasarkan Surat Keputusan Kasad Nomor Skep/24/II/1985 tanggal 25 Pebruari 1985 tentang likwidasi dan alih status Bapras Kodam XIII/Mdk, Komlekdam XIII/Mdk beralih Status Sub Hubdam VII/Wrb.

l. Pusdal Minlog. Mengingat situasi dan kondisi awal serta proses reorganisasi yang padat kegiatan, dapat menimbulkan kerawanan yang bila terjadi akan kurang menguntungkan perkembangan TNI AD. Kerawanan tersebut dapat berupa hilangnya aset TNI AD, timbulnya kerugian, timbulnya ketidak tertiban administrasi ataupun tuntutan-tuntutan oleh pihak luar. Supaya reorganisasi dapat berjalan lancar sesuai dengan rencana dan tidak menimbulkan dampak negatif, khususnya dibidang Logistik maka di Kodam dibentuk Pusdal Minlog sesuai Surat Telegram Kasad Nomor ST 767/1985 tanggal 4 Juni 1985. Untuk Kodam XIII/Mdk yang di adakan likwidasi dikeluarkan Surat Perintah Pangdam XIII/Mdk Nomor Sprin-836/X/1984 tanggal 12 Oktober 1984 tentang pembentukan Pusdal Minlog, Minpers dan Minku di Kodam XIII/Mdk dan sebagai kepala pengendalian Alkomlek ditunjuk Letkol Chb A. Kadir Nrp 1992 Cs 6 orang.

Surat Perintah Pangdam VII/Wrb Nomor Sprin/814/VII/1985 tanggal 20 Juli 1985 tentang pembentukan Pusdal Minlog ditingkat daerah pada Kodam VII/Wrb dengan sasaran tugas menyempurnakan/membuat buku inventarisasi, redistribusi dari material aset yang akan dihapus dari kekuatan AD, dari eks Kodam XIV/Hn maupun Kodam XIII/Mdk.

Sebagai kepala pengendali Alkomlek adalah Letkol Chb Arwin Aritonang Nrp 1942. Sesuai Radiogram Pangdam VII/Wrb Nomor.T/98/1986 tanggal 9 Mei 1986 tentang pembubaran Pusdal Minlog E (Manado) dan Kodal Minlog eks Kodam XIV/Hn dan jajarannya, maka Kodal Alkomlek Menyerahkan tugas tanggung jawab dan fungsi Alkomlek kepada Kahubdam VII/Wrb. Sejak dikeluarkannya tersebut, pembinaan seluruh Alkomlek yang ada dibina sepenuhnya oleh Kahubdam VII/Wrb.

m. Pembentukan Hubdam VII/Wrb. Pembentukan Hubdam VII/Wrb diawali dengan Surat Perintah Pangdam VII/Wrb Nomor : Sprin/1447/XI/1985 tanggal 19 Nopmber 1985 tentang perintah kepada Dan/Ka Dinas Jawatan jajaran Kodam VII/Wrb untuk :

1) Melaksanakan penyusunan organisasi sesuai kecabangan dan fungsi masing-masing.

2) Mendayagunakan personel, materiil dan fasilitas kerja yang ada guna mengisi/melengkapi organisasi yang baru.

3) Penyusunan organisasi baru sudah berfungsi pada akhir Nopember 1985.

Setelah keluarnya Surat Perintah Pangdam VII/Wrb, secara bertahap dilaksanakan penataan organisasi Hubdam VII/Wrb dengan memanfaatkan personel materiil atau fasilitas yang ada. Pejabat-pejabat yang ada sebelum ada Skep definitif diberi jabatan Ws serta diadakan penyesuaian nama jabatan.

Pada tanggal 10 Nopember 1985 diadakan upacara peresmian Bapras bertempat dihalaman Makodam VII/Wrb. Sejak itu Hubdam VII/Wrb telah berfungsi dan siap operasional, walaupun penataan organisasi belum selesai sepenuhnya. Di Manado tempat eks Makomlekdam XIII/Mdk disamping ada Hubyahrem 131 yang di jabat oleh Mayor Chb J. Kaunang juga ada Sub Hubdam VII/Wrb dengan tugas untuk menangani masalah-masalah eks Komlekdam XII/Mdk. Secara bertahap wewenang tersebut dialihkan kepada Hubyahrem 131 di Manado dan Hubyahrem 132 di Palu. Bersamaan dengan penataan organisasi dibuat pula piranti lunak seperti pembuatan protap, Instap dan Insop Hub serta penyusunan prosedur kerja Hubdam VII/Wrb. Diadakan pula penggantian papan nama dan cap jabatan Denhubyanlap dan Hubyahrem jajaran Hubdam VII/Wrb.

n. Validasi Hubdam. Berdasarkan Keputusan Kepala Staf Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat Nomor Kep / 2 / I /2007 tanggal 23 Januari 2007 diadakan validasi pada organisasi dan tugas Hubdam dengan tidak lagi mencantumkan Hubyahrem yang berkedudukan di Korem-Korem sebagai Eselon pelaksana di daerah dan perubahan nama Denhubyanlap menjadi Denhub. Dengan demikian maka terjadi kekosongan eselon pelaksana di daerah, sehingga tugas-tugas Pahubyah dialihkan ke Dankihubrem sampai terbentuknya Denhubrem sebagai pengganti Hubyahrem.

o. Denhubrem. Berdasarkan Peraturan Kepala Staf Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat Nomor Kep / 15 / III / 2008 tanggal 28 Maret 2008 tentang pembentukan Denhubrem sebagai unsur pelaksana Hubdam di daerah.

Denhubrem jajaran Hubdam VII/Wrb meliputi :

1) Denhubrem 131/Stg di Manado.

2) Denhubrem 132/Tdl di Palu.

3) Denhubrem 141/Tdp di Bone.

4) Denhubrem 142/Ttg di Pare-pare.

5) Denhubrem 143/Ho di Kendari.

Orgas Hubdam berdasarkan Keputusan Kasad Nomor Kep / 2 / I / 2007 tanggal 23 Januari 2007 sbb :

1) Eselon Pimpinan.

a) Kahubdam VII/Wrb.

b) Wakahubdam VII/Wrb.

2) Eselon Pembantu Pimpinan.

a) Seksi Komunikasi.

b) Seksi Pernikatek.

c) Seksi Materiil Perhubungan.

3) Eselon Pelayanan.

– Seksi Tata Usaha Urusan Dalam.

4) Eselon Pelaksana.

a) Detasemen Perhubungan.

b) Bengkel Perhubungan.

c) Gudang Materiil Perhubungan.

d) Denhubrem

8. Dharma Bhakti.

a. Operasi Tempur.

1) Sesuai surat keputusan Pangdam XIV/Hn No. Kep.0140/6/1968 tanggal 16-6-1968 tentang pembentukan Yon Satgas II Hasanuddin dibawah pimpinan Mayor Inf Sanusi, termasuk Peleton Perhubungan dibawah pimpinan Letda Chb R. Siswanto. Dukungan yang diberikan dari Hubdam XIV/Hn berupa :

a) Personel 11 orang anggota (campuran dari Mahubdam XIV/ Hn dengan Kihub Brigif 11/Anoa).

b) Dukungan peralatan Perhubungan berupa pesawat radio AN/GRC-9 dan pesawat radio HF-156.

2) Dalam rangka penumpasan OPM di Irian Jaya Hubdam XIII/Mdk menugaskan satu Team Hub yang tergabung dalam Satgas Merdeka I pimpinan Capa Suparto.Kemudian pada saat Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) Telah menugaskan juga 1 Team Hub Yon Satgas Merdeka II dipimpin oleh Capa J. Pantaw Nrp 209510.

3) Sesuai surat keputusan Pangdam XIV/Hn No.Kep.0102/I/1969 tanggal 2-1-1969 tentang pembentukan Yon Satgas III/Hasanuddin yang ditugaskan di Irian Jaya dibawah pimpinan Mayor Inf Muchtar Jaya Nrp 291137 termasuk Peleton Perhubungan dibawah Pimpinan Peltu L.D. Adidie Nrp 280115. Dukungan yang diberikan dari Hubdam XIV/Hn berupa :

a) Personel 21 orang (Campuran dari Mahubdam XIV/Hn dengan Kihub Brigif 11/Anoa).

b) Peralatan Perhubungan berupa : Penyerahan Satgas II yaitu Radio AN/GRC-9 dan Peawat Radio HF-156.

4) Hubdam XIII/Merdeka pada tahun 1969 mendukung Satgas Merdeka III yang bertugas ke Irian Jaya, dengan menugaskan 1 Team Hub yang pimpin Letda Chb Soegiarto Nrp 21239. Pesawat-pesawat yang digunakan pada penugasan ini antara lain AN/GRC-9, OKI dan HF-156.

5) Sesuai dengan Surat Keputusan Pangdam XIV/Hn No : Kep.0035/4/1969 tanggal 9 April 1969 tentang pembentukan Yon Satgas IV/Hn yang ditugaskan ke Irian Jaya termasuk Peleton Perhubungan dibawah Pimpinan Letda Chb Makatutu Nrp 209010. Dukungan yang diberikan dari Hubdam XIV/Hn berupa :

a) Personel 20 orang.

b) Peralatan Perhubungan berupa pwt AN/GRC-9 dan HF-156.

6) Sesuai surat keputusan Pangdam XIV/Hn No.Kep-0261/12/1970 tanggal 26 Desember 1970 tentang pembentukan Yon Satgas V/Hn dibawah Pimpinan Kapten Inf Opusidik Nrp 292948 termasuk didalamnya 1 Peleton Komunikasi dipimpin oleh Letda Chb Slamet M. Nrp 21177.

Yon Satgas V/Hn ditugaskan ke Irja. Dukungan yang diberikan dari Hubdam XIV/Hn sbb :

a) Personel 11 orang.

b) Alat Perhubungan berupa AN/GRC-9 dan HF-156.

7) Sesuai surat Perintah Pangdam XIV/Hn No. Sprin/812/VI/1976 tanggal 7 Juli 1976 di BP kan Ke Yonif 724 dalam rangka operasi Seroja Timtim :

a) Personel :

(1) 8 orang anggota Mahubdam dan Denhubyan.

(2) 21 orang anggota Kihub Pur Brigif 11/Anoa

b) Materil : Pesawat PRC 77 dan Pesawat PRA-33.

8) Berdasarkan surat perintah Pangdam XIII/Merdeka No. Sprin / 44 / I / 1976 tanggal 21 Januari 1976 tentang perintah Operasi Seroja di Timtim dengan memperbantukan personel kepada Yonif 712/By, dibawah pimpinan Letda Chb Mulianto Nrp 27369 sebagai Dantonkom.

9) Pada tahun 1977 Kodam XIII/Merdeka menugaskan kembali Yonif 711/Pks ke Timtim yang dilengkapai dengan Tonkom dibawah pimpinan Peltu Suroto Nrp 440037 dengan menggunakan Pesawat : SC-120,SC-130;PRC-77.

10) Sesuai Surat Perintah Pangdam XIV/Hn No. Sprin/900/IV/1976 tanggal 21 Juni 1976 tentang pem BP an ke Yonif 724 atas nam Letda Chb Nanak Purnama sebagai Dantonkom dalam rangka tugas operasi di Tim-Tim.

11) Sprin Pangdam XIV/Hn No.Sprin/644/XII/1977 tanggal 20 Desember 1977 penugasan Yonif 725 ke Tim-Tim dengan mem BP kan Sertu Abd Wahid sebagai Bahub.

12) Sprin Pangdam XIV/Hn No.Sprin/1666/XII/1977 tentang penugasan RTP-11 ke Tim-Tm dan Kihub RTP 11/Hn.

13) Berdasarkan Surat Perintah Pangdam XIV/Hn No.Sprin/353/III/1977 tanggal 25 Maret 1977 di BP kan di Yonkav 10/Intai 1 orang Monrad.

14) Berdasarkan Surat Perintah Kasad Nomor Sprin/44/I/1977 tanggal 17 Januari 1977 di BP kan 5 orang dalam rangka penugasan Kodam Hankam ke Tim-Tim.

15) Sesuai Sprin Pangdam XIV/Hn No. Sprin/1106/XII/1978 tanggal 10 Desember 1978 tentang penugasan Yonif 700 ke Tim-Tim termasuk 16 orang anggota Hubdam yang di BP kan sebagai Dantonkom Peltu Y. Palinggi.

16) Sesuai Surat Perintah Pangdam XIV/Hn No.Sprin/924/VII/1984 tanggal 25 Juli 1984 tentang pem BP an ke satuan tugas Yonif 721 untuk tugas Ops di daerah Tim-Tim di bawah pimpinan Dantonkom Lettu Chb Subianto Cs 9 orang. Alkom yang digunakan : TRP-340, Racal, PRC-77.

17) Sesuai Surat Perintah Pangdam XIV/Hn No.Sprin/1111/IX/1984 tanggal 9 September 1984 tentang penugasan pem BP an ke Yonif 700 Linud dalam rangka tugas operasi didaerah Tim-Tim dengan Dantonkom Capa Nurdin Cs 3 orang. Alkom yang digunakan : TRC-340, Racal dan PRC-77.

18) Sesuai Surat Perintah Pangdam XIV/Hn No.Sprin/335/III/1985 tanggal 23 Maret 1985 tentang penugasan paket Tim-Tim A.n. Kopda Manan Cs 9 orang dengan menggunakan pesawat TRC-340, Racal dan PRC-77.

19) Sesuai Surat Perintah Pangdam XIV/Hn No.Sprin/333/III/1985 tanggal 20 Maret 1985 tentang pem BP an Peltu Sarwidi dan Serda Jono R. Kassa ke Yonif 724 dalam rangka tugas operasi didaerah Tim-Tim.Pesawat yang digunakan : TRC-340, Racal dan PRC-77.

20) Sesuai Surat Perintah Pangdam XIV/Hn No.Sprin/537/IV/1985 tentang penugasan Serda Budi Parwito Cs 1 orang ke Yon Kav 10/Serbu Alkom yang digunakan : TRC-340, Racal dan PRC-77.

dalam rangka tugas operasi didaerah Tim-Tim.

b. Operasi Kamdagri

1) Sesuai Perintah operasi Laksusda Sulutteng No.P0002 /Kamda /IV /1973 tanggal 20 April 1973 tentang operasi pembersihan sisa-sisa G.30 S/PKI serta unsur-unsurnya didaerah sulawesi Utara dan tengah dengan melibakan seluruh kekuatan ABRI yang ada di daerah tersebut.

2) Sesuai Sprin Pangdam XIV/Hn No.Sprin/0144/VII/1973 tanggal 31 Juli 1973 tentang personel Yonif satgas pengamanan di P.Buruh A.n. Pelda A. Tola sebagai Bato Hub Nrp 366187.

3) Perintah Operasi No.PO/003/kamda/VI/1974 tanggal 25 Juni 1974 dilaksanakan Operasi Gabungan antara ABRI dan Aparatur pemerintah Sipil didaerah Sulutteng untuk pemulihan keamanan dan ketertiban yang timbul karena hasutan dari sisa-sisa G.30.S/PKI dan Subversi lainnya.

4) Berdasarkan surat perintah Laksuda Sulutteng No Sprin-02/Kamda/VIII/1979 tentang penyelenggaraan patroli udara, laut serta operasi Intel dan Terr di daerah Sangir Talaut, Hubdam XIII/Mdk memperbantukan 1 Team Hub dengan menggunakan pesawat radio TX/RX type CM-150 merk SWAM.

5) Berdasarkan surat perintah Pangdam VII/Wrb No Sprin-282/ /II/2000 tanggal 25 Pebruari 2000 tentang bebas tugas operasi Irian Jaya a.n. Serda Dolfi Lampah dan Serda Anton Rombe.

6) Berdasarkan surat perintah Pangdam VII/Wrb No Sprin-712/ /VII/2001 tanggal 06 Juli 2001 tentang Bhakti TNI rawan Aceh A.n. Serda Miskamto

7) Berdasarkan surat Sprin Pangdam VII/Wrb No Sprin/59/III/2002 tanggal 20 Maret 2002 tentang Satgas Pam perbatasan NTT a.n. Serda Slamet Sumanto.

8) Berdasarkan surat perintah Pangdam VII/Wrb No Sprin/132 /VI/2004 tanggal 13 April 2004 tentang Rotasi satuan bhakti TNI di provinsi NAD a.n. Prada M. Farid dan Prada Iwan S.

9) Berdasarkan surat perintah Pangdam VII/Wrb No Sprin/101 /VI/2005 tanggal 13 April 2004 tentang pemulihan daerah rawan Aceh A.n. Prada M. Farid dan Prada Iwan S.

c. Operasi Manunggal Sehat. Berdasarkan Sprin Pangdam XIV/ Hn No 1510/ XII/ 1981 tanggal 1- 12- 1981, Manunggal Sehat I yang diikuti oleh Kapten Chb Kustoyo cs 14 orang yang diadakan di Kab. Pangkep dengan menggunakan pesawat Furuno dan PRC 77.

d. Operasi Pemilu.

1) Pada Pemilu 1971 Hubdam XIII/Mdk dan Hubdam XIV/Hn secara aktif mendukung pengamanan Pemilu di daerah Kodam masing- masing.

Dalam melaksanakan tugas tersebut telah menggunakan pesawat baru ISB type HPM- 312/ RSM 2002 A kekuatan 1 KW dengan pesawat dukungan type PRA- 33.

2) Melaksanakan komunikasi dalam rangka Pemilu 1977 dengan menggunakan pesawat Carima PRB- 33 dan PRC- 77.

3) Pada Pemilu 1977 Hubdam XIII/Mdk ikut mengamankan dan menyukseskan Pemilu serta pengamanan Sidang Umum MPR dengan menggunakan pesawat PRC- 77 ditempatkan di daerah Sulawesi Tengah.

4) Pembentukan Bakor Siskom Pemilu Dati I Sulsel berdasarkan Surat Keputusan Gubernur KDH/Ketua PPD Tk. I Sulsel No. 168/U.2/VI/1981 tanggal 22 Juni 1981 dan pengangkatan Ka Bakor Siskom Pemilu Dati I Sulsel A.n Letkol Chb Arwin Aritonga NRP 19442 berdasarkan Surat Keputusan Gubernur KDH/ Ketua PPD Tk. I Sulsel No. 169/U.2/VI/1981 tanggal 22 Juni 1981. Perintah pelaksanaan dari Laksus Pangkopkamtibda Sulselra Nomor Sprin/ 0058/ Kamda/ VII/ 1981 tanggal 18- 8- 1981.

5) Dan Sathub Laksusda Sulutteng telah diangkat sebagai Kepala Badan Koordinasi Sistim Komunikasi Pemilu Sulteng, berdasarkan Skep Gubernur Kepala Daerah/Ketua PPD Tk. I Sulut No/ 03/PPD I/ BAKORSIK/1980 tanggal 12 Desember 1980 dan Skep Gubernur KDH/ Ketua PPD Tk. I Sulteng No. 23/ PPd. I/ ST/ 1981 tanggal 20 Juli 1981.

6) Perintah Operasi Laksusda Sulutteng No. 04 Jaya Sakti tanggal 28- 12- 1981, memberikan dukungan Komunikasi dalam rangka pelaksanaan Pemilu 1982.

7) Dalam rangka pelaksaan Pemilu 1982 di bentuk Siskom Pemilu 1982 PPD I Sulsel dan PPD I Sultra yang dititikberatkan pada Siskom Wilayah Kodam XIV/Hn.

Peralatan yang digunakan PRC- 77 dengan antena ground plene, Radio HM – 201, PRM 4021.

e. Operasi Internasional. Sesuai Skep Pangab No. Skep/ 1359/X/1977 tanggal 19-10-1977 tentang penempatan dalam keanggotaan Kontingen Indonesia Garuda VIII Timur Tengah dan Skep Pangdam XIV/Hn No. Skep/157/VIII/1977 tanggal 18-8-1977 serta Surat Perintah Pangdam XIV/Hn No. Sprin/1289/X/1977 tanggal 26-10-1977 tentang persiapan pemberangkatan pasukan Kotindo Garuda VIII Pengganti ke Tim- Teng.

Surat Perintah pelaksanaan oleh kahubdam XIV/Hn Nomor Sprin/165/XI/1977 tanggal 5 Nopember 1977 tentang pem BP an pada team Komunikasi Kotindo Garuda VIII Pengganti/ Tim Teng A.n. Lettu Chb Prasetyo NRP 25428 Cs 13 orang.

f. Tugas Karya.

1) Berdasarkan Surat Perintah Pangdam XIV/Hn No. Sprin 1539/10/1976 tangal 29 Oktober 1976 Letkol Chb A. Soemanto Nrp 211630 di tugaskaryakan di Telkomda Tk I Sulsel TMT 1–8–1976.

2) Berdasarkan Surat Perintah Pangdam XIV/Hn No. Sprin /51/I/ 1977 tanggal 11-1-1977 Peltu M. Dahlan Nrp 264155 di tugaskaryakan di Mada Hansip XIV/Sulsel.

3) Berdasarka Surat Telegram Pangdam XIV/Hn No. STK/755/1979 tanggal 6-9-1979 Mayor Chb Hasyim Halid Nrp 27595 ditugas karyakan sebagai Kabag Sandi dan Telkomda Prop. Sulsel menggantikan Letkol Chb A. Soemanto Nrp. 211630.

g. Operasi Bencana Alam.

1) Dalam rangka penanggulangan bencana alam gunung Colo di pulau Una-Una, Hubdam XIII/Mdk memberikan dukungan Komunikasi.

2) Berdasarkan surat perintah Pangdam VII/Wrb No Sprin/132 /VI/2004 tanggal 17 Juni 2004 tentang Penyiapan Satgas Yon Zipur 8/Smg dalam rangka Bantuan kemanusiaan korban bencana alam di Pulau Nias.

a.n. Sertu Laruswan, Sertu Abd Raidin, Serda Merto Tana dan Pratu Marzuki Ali.

h. Operasi Bantuan Kecelakaan. Berdasarkan Surat Perintah Pangdam XIII/Mdk bulan Maret 1977 di daerah Toli-toli telah ditugaskan team Hubdam XIII/Mdk dibawah pimpinan Kapten Chb Dardiri Nrp 21236 dengan menggunakan pesawat radio PRC 77 dan PRA 33 untuk membantu kecelakaan pesawat perintis MNA Twin Otter.

i. Tugas pendidikan. Berdasarkan sprin Kasad No.sprin / 1897 / XII / 2003 tgl 12 Desember 2003 tentang perintah melaksanakan tugas belajar di Amerika a.n. Kapten Chb heru Amrullah.

i. Operasi AMD.

1) Turut memberikan dukungan komunikasi dalam pelaksanaan AMD-I, berdasarkan Surat Perintah Pangdam XIII/Mdk No. Prinop 01 Mamesa tanggal 19-8-1980.

2) Turut memberikan dukungan komunikasi dalam pelaksanaan AMD-II berdasarkan perintah operasi Pangdam XIII/Mdk Nomor Prinop 02 Manunggal II tanggal 20-11-1980.

3) Memberikan dukungan komunikasi dalam pelaksanaan AMD III, dasar Prinop Pangdam XIII/Mdk Nomor 03 Manunggal III tanggal 2-02-1981.

4) Memberikan dukungan komunikasi dalam pelaksanaan AMD IV dasar Prinop Pangdam XIII/Mdk nomor 04 Manunggal IV tanggal 21-8-1981.

5) Memberikan dukungan komunikasi dalam pelaksanaan AMD V sesuai perintah operasi Pangdam XIII/Mdk nomor 02 Manunggal V tanggal 21 Agustus 1981.

6) Perintah operasi Pangdam XIII/Mdk nomor 03 Manunggal VI tanggal 25-11-1981, memberikan dukungan komunikasi dalam pelaksanaan AMD-VI.

7) Sesuai Perintah Operasi Pangdam XIII/Mdk nomor 01 Manunggal VII tanggal 15-2-1982 dengan memberikan dukungan komunikasi dalam rangka kegiatan pelaksanaan AMD-VII.

8) Sesuai Perintah Operasi Pangdam XIII/Mdk nomor 02 Manumggal VIII tanggal 15 mei 1982, dengan memberikan dukungan komunikasi dalam rangka kegiatan pelaksanaan AMD VIII.

9) Sesuai Perintah Operasi Pangdam XIII/Mdk nomor 03 Manunggal IX tanggal 16 Agustus 1982 dengan memberikan dukungan komunikasi dalam rangka kegiatan AMD IX.

10) Sesuai Perintah Operasi Pangdam XIII/Mdk nomor 04 Manunggal X tanggal 20 Nopember 1982, dengan memberikan dukungan komunikasi dalam rangka pelaksanaan AMD/X

11) Sesuai Perintah Operasi Pangdam XIII/Mdk nomor 01 Manunggal XI tahun1983 memberikan dukungan komunikasi dalam rangka pelaksanaan AMD-XI.

12) Berdasarkan Sprin/154/II/1983 tanggal 3 Pebruari 1983 pada pelaksanaan Manunggal XI di Dim 1403/1405/1415/1424/1412 dengan diikuti oleh serka Suparman Nrp 388210 Cs 1 orang dengan menggunakan pesawat Furuno PRC-77.

13) Berdasarkan Sprin/685/V/1983 tanggal 16 Mei 1983 pada pelaksanaan Manunggal VII diadakan di wilayah Dim 1406/1409/1414/1417/1421 diikuti oleh Sertu Alfonsus Tana Nrp 388178 Cs 15 orang dengan menggunakan pesawat Furuno dan PRC-77.

14) Sesuai perintah operasi Pangdam XIII/Mdk Nomor 02 Manunggal XII bulan Mei 1983 dengan memberikan dukungan komunikasi dalam rangka pelaksanaan AMD-XII.

15) Berdasarkan Sprin/1090/VIII/1983 tanggal 25 Agustus 1983 Manunggal XIII diadakan di Dim 1411/1418/1422/1420/1413 diikuti oleh Sertu Benyamin Nrp 388144 Cs 11 orang dengan menggunakan pesawat : Furuno, Racal dan PRC-77.

16) Sesuai Perintah Operasi Pangdam XIII/Mdk nomor 03 Manunggal XIII bulan Agustus 1983 dengan memberikan dukungan komunikasi dan pelaksanaan AMD-XIII.

17) Sesuai Perintah Operasi Pangdam XIII/Mdk nomor 4 Manunggal XIV tanggal 15 Nopember 1983 dengan memberikan dukungan komunikasi dalam pelaksanaan AMD-XIV.

18) Berdasarkan Sprin/1552/11/1983 tanggal 22 Nopember 1983 manunggal XIV diadakan diwilayah Dim 1402/1419/1425/1416 yang diikuti oleh Sertu Sapuri Nrp 412301 Cs 4 orang dengan menggunakan pesawat Furuno dan PRC-77.

19) Sesuai Perintah Operasi Pangdam XIII/Mdk nomor 01 Manunggal XV tanggal 14 Pebruari 1984 memberikan dukungan komonikasi dalam pelaksanaan AMD XV.

20) Dasar Sprin/292/II/1984 taggal 25 Pebruari 1984 Manunggal XV diadakan di wilayah Dim 1404 dan 1417 diikuti oleh Serka Maleasang Nrp 475888 Cs 2 orang dengan menggunakan pesawat Furuno dan PRC-77.

21) Sesuai Perintah Pangdam XIII/Mdk nomor 02 Manunggal XIV tanggal 18 Juli 1984 memberikan dukungan komunikasi dalam rangka pelaksanaan AMD XVI.

22) Dasar Sprin/835/VI/1984 tanggal 26 Juni 1984 Manunggal XVI diadakan di wilayah Dim 1401 dan 1413 yang diikuti oleh Koptu Laside Nrp 388199 Cs 3 orang dengan menggunakan pesawat : Furuno, Racal dan PRC-77.

23) Sesuai Perintah Operasi Pangdam XIIII/Mdk nomor 03 Manunggal XVII tanggal 13 Oktober 1984 memberikan dukungan komunikasi dalam pelaksanaan AMD/ XVII.

24) Dasar ST Pangdam XIV/Hn No. STK/61/X/1984 tanggal 13 Oktober 1984 Manunggal XVII diadakan di wilayah Di 1410 dan 1416 diikuti oleh serka Rombe. B. Cs 7 orang. Pesawat yang digunakan adalah Furuno dan PRC 77.

25) Sesuai Sprin Pangdam No.Sprin/15/I/1985 tanggal 4 Januari 1985 manunggal XVIII dilaksakan di wilayah Dim 1403 dan 1417 yang diikuti leh Serka Sukri Pashin Nrp 388162 Cs 3 orang dengan menggunakan pesawat Racal dan PRC 77.

26) Dasar Sprin/124/VII/1985 tanggal 6 Juli 1985 Manunggal XIX dilaksanakan di wilayah Dim 1423/Soppeng yang diikuti oleh Sertu Amin Dahlan Nrp 494148 Cs 1 orang dengan menggunakan pesawat Furuno dan PRC 77.

27) Dasar ST Pangdam XIV/Hn No.STR/595/1985 tanggal 10 Oktober 1985 Manunggal XX dilaksanakan di wilayah Dim 1415/Selayar yang diikuti oleh Sertu Amin Dahlan Cs 3 orang dengan menggunakan pesawat Furuno dan PRC 77.

k. Operasi Pam VIP

1) Berdasarkan Surat Perintah Laksusda Sulutteng tanggal 29 Juni 1980 tentang Operasi Pakatuan-VII turut mendukung komunikasi dalam rangka pengamanan Sidang Raya IX DGI tahun 1980 dan pengamanan Presiden RI beserta rombongan yang akan meresmikan pembukaan Sidang Raya DGI dan proyek-proyek Pelita di Manado.

2) Sesuai Perintah Operasi Sejuk Laksusda Sulutteng tanggal 29 Mei 1982 memberikan dukungan komuniokasi dalam rangka pengamanan kunjungan Wapres RI bersama rombongan di Sulawesi Tengah.

3) Sesuai Perintah Operasi dari Laksusda Sulutteng tanggal 15 Oktober 1983 dengan memberikan dukungan komunikasi dalam rangka pengamanan kunjungan Ibu Negara RI bersama rombongan di wilayah Sulteng.

4) Sesuai Perintah Operasi Cendini dari Laksusda Sulutteng tanggal 9 Nopember 1983 memberikan dukungan komunikasi dalam rangka pengamanan kunjungan Presiden RI dan rombongan di Manado.

5) Sesuai Perintah Operasi Klabat dari Laksusda Sulutteng tanggal 12 Nopember 1983 Komlekdam XIII/Mdk memberikan dukungan komunikasi dalam rangka pengamanan kunjungan Wapres RI di Manado Sulut.

l. Operasi Manunggal Reboisasi.

1) Komlekdam XII/Merdeka pada Operasi Manunggal Reboisasi bulan September 1985 memberikan dukungan komunikasi yang dilaksanakan di wilayah Dim1305/Tolo-toli.

2) Komlekdam XIII/Mdk memberikan dukungan komunikasi pada Operasi Manunggal Reboisasi dilaksanakan diwilayah Kodim 1303/Bolaang Mongondow

PERKEMBANGAN SARANA / GELAR KOMUNIKASI SAMPAI TAHUN 1985

Keadaan sarana/gelar komunikasi sampai dengan tahun 1985. Keadaan sarana/gelar komunikasi yang ada dijajaran Kodam VII/Wrb sampai dengan awal tahun 1985.

a. Komunikasi wilayah. Komunikasi wilayah yang digelar di Markas Koter telah menjangkau tingkat Koramil dan bahkan sampai tingkat Babinsa tertentu yang dianggap rawan. Babinsa yang telah dilengkapi Alkom antara lain Babinsa dikepulauan yang berbatasan dengan Negara Philipina yaitu pulau Miangas, pulau Marore, pulau Marampi dan Pulau Kawaluso.

1) Sebelum tahun1970 untuk Kodam ke bawah menggunakan Radio BC 375, AP 04, dan BCA.

2) Untuk tingkat Korem – Kodim pada tahun 1970 masih menggunakan PRA 33 dan pada tahun 1976/1977 hubungan komunikasi Kodam-Korem-Kodim baru menggunakan sarana komunikasi SR-206 (khusus Kodim yang dimantapkan).

3) Tahun 1981/1982 barulah seluruh Korem-Kodim mendapat saran SR-206 dan Kodim Koremil menggunakan sarana komunikasi HM 201 dan PRC 77. Dan dalam tahun 1985 seluruh Koramil telah memiliki stasiun radio.

Untuk daerah Sulawesi Selatan umumnya menggunakan Radio type FM sedang untuk daerah Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara menggunakan Radio type AM/SSB. Untuk memperluas jangkauan ada juga yang dapat digunakan dalam rangka Pam Route/Konvoi khususnya bila ada tamu VIP yang di lengkapi dengan beberapa repeater sbb

a) Gunung Lompobattang di Kabupaten Gowa.

b) Gunung Niniconang di Kabupaten Barru

c) Gunung Rantemario dan G. Macca di Kabupaten Enrekang.

d) Gunung Makawembeng di Kabupaten Tondano

e) Pabrik Terigu “Prima” di Makassar.

b. Komunikasi Operasi. Untuk mendukung kemampuan Kodal Satpur/Banpur telah dilengkapi dengan saran komunikasi Radio sesuai TOP masing-masing, TOP Radio Satpur/Banpur berupa 11 Set Radio PRM 4021/SC 130 untuk Ki Set dan 20 Set PRC 77 untuk Ton Set. Sebelum generasi Racal/SC 130 dan PRC 77 untuk Satpur menggunakan Radio FM R-105 dan selanjutnnya Radio AM/SSB HF 156.

c. Komunikasi Markas. Komunikasi Markas terdiri dari komunikasi telepon (TRO) dan Radio pangkalan.

1) Markas Satuan yang sudah memiliki TRO adalah :

a) Makodam VII/Wrb dengan 100 mata sambungan type Siemens ESK 400 E keadaan baik.

b) Makorem 131/Stg type AK: -860 kapasitas 50 mata sambungan keadaan baik.

c) Makorem 142 type Utimat kapasitas 30 mata sambungan, dalam keadaan rusak.

d) Makorem 143 type ericson kapasitas 50 mata sambungan, dalam keadaan baik.

e) Rumkit Pelamonia type NEAX 12 VS merek NEC kapasitas 30 mata sambungan dalam keadaan baik.

f) Gedung balai Manunggal merek Siemen kapasitas 50 mata sambungan dalam keadaan baik.

2) Komunikasi Pangkalan. Komunikasi antara Marinifdam VII/Wrb dengan badan pelaksana dibawah seperti Dodik Secata di Malino dan Puslatpur Bancee menggunakan sarana komunikasi PRC 77 dengan repeater di G. Lompobattang. Komunikasi antara Marinif dengan Dodik Secata di Bitung (Sulut) menggunakan telepon Perumtel atau melalui Senkom Makorem 131/Manado.

3) Untuk Satpur yang Kompi-Kompinya tersebar, dilengkapi dengan radio pangkalan type HF/SSB merek SS-4/TWC. Batalyon Infantri yang sudah dilengkapi jaring pangkalan adalah 712, 713 di Sulut, Yonif 711 Sulteng dan Yonif 721,726 di Sulsel serta Yonif 725 di Sultra.

c. Jaring komunikasi khusus yang sudah tergelar meliputi :

1) Komunikasi Pam Kota/VIP. Kota penting di Sulawesi yang sudah dilengkapi sarana komunikasi Pam Kota/VIP adalah Makassar dan Manado. Sarana yang digunakan di Makassar berupa HT 220 Motorola di lengkapi dengan repeater dan base consullete pengadaan tahun 1976 dan tahun 1983 dengan kondisi + 50% operasional. Untuk kota Manado menggunakan HT 220 Motorola lengkap dengan base stasion dengan repeater pengadaan tahun 1976, dalam kondisi rusak berat. Kota Palu, Kendari yang merupakan ibu kota daerah Tk. I belum dilengkapi radio untuk Pam Kota/VIP.

2) Jaring komunikasi Deninteldam. Jaring komunikasi Deninteldam XIII maupun XIV terdiri dari komunikasi untuk mendukung tugas operasi Tim-Lap Deninteldam maupun untuk komunikasi dengan Dispamsanad.

Perkembangan sarana komunikasi yang digunakan sampai dengan tahun 1985 sbb :

a) Komunikasi Operasi. Kominikasi operasi Tim Lap Deninteldam menggunakan :

(1) HT SRA lengkap dengan repeater merupakan alokasi + tahun 1983. Radio ini praktis tidak sempat di operasikan mengingat semenjak diterima tidak dapat berfungsi dengan baik dan pada tahun 1984 radio tersebut ditarik oleh Dispamsanad.

(2) HT RCA/TAC 200 alokasi + 1984 dilengkapi dengan repeater stasioner maupun repeater mobil TAC 100. dengan 2 repeater dimaksud agar dimanapun Tim Lap beroperasi (diluar liputan repeater stasioner) dapat menggunakan repeater mobil TAC 100. Radio type ini mulai dioperasikan pada awal tahun1985.

(3) Untuk memungkinkan komunikasi antara Madeninteldam dengan daerah dimana TimLap sedang beroperasi menggunakan pesawat Racal PRM 4031.

b) Komunikasi antara Madeninteldam dengan Dispamsanad menggunakan radio GS 900/Sun Air.

3) Komunikasi perbatasan RI-RP (Kerkamtas). Komunikasi dalam rangka kerja sama keamanan perbatasan antara Republik Indonesia dengan Republik Philipina baru sebagian pos-pos yang dilengkapi sarana komunikasi yaitu Manado, Miangas, Marore, Davao dan Batuganding sedang untuk pos-pos lainnya belum diberikan. Sarana komunikasi yang digunakan adalah radio type AM/SSB antara lain KWM 2A, SC 130 dan TRX Racal TRA 931 A. Khusus Kodam VII/Wrb menggunakan radio type TRC 342. Komunikasi antara pos-pos yang ada dengan Manado cukup baik, komunikasi antara Lantamal Bitung dengan Makodam VII/Wrb Makassar baik, tetapi komunikasi antara pos-pos tersebut dengan Makassar kurang baik, karen power out put radio yang digunakan umumnya kecil. Operator radio yang melayani pos lintas batas/liaison dari Satkomlek Lantamal Bitung. Sesuai hasil perjanjian bersam pos-pos lintas batas/liaison yang telah disepakati adalah:

a) Tarakan, Manado, Miangas dan Marore untuk wilayah Republik Indonesia.

b) Davao, Batuganding, Bangao, Tibanban dan Zamboanga untuk wilayah Republik Philifina.

4) Komunikasi Pomdam VII/Wrb. Komunikasi untuk mendukung kegiatan Pomdam dalam rangka Gakkum dan Tatib maupun dalam rangka pengamanan tamu VVIP/VIP telah dilengkapi dengan radio Motorola type HT MX 350 dan base Consullete Micor 70.

e. Komsat ABRI. Stasiun Bumi sedang (SBS) di Makassar dan stasiun Bumi kecil (SBK) di Manado digelar pada tahun 1978 dengan adanya reorganisasi Kodam, maka eks Kodam XIII/Mdk dimanfaatkan oleh Korem 131/Stg dan eks Kodam XIV/Hn digunakan oleh Kodam VII/Wrb. Fasilitas Komsat ABRI yang tersedia pada tahun 1978 berupa Telex, Minlog dan Hotline. Pada sekitar tahun 1980 dikembangkan menjadi saluran Ops I, Ops II, Komando, Minlog dan telex, dan kira-kira pada tahun 1984 saat likuidasi Kowilhan jaring Ops I dan Ops II Iidisatukan menjadi jaring Ops dan dilengkapi dengan Fasilitas DAMA (Deman Assignment Multiple Axes) sehingga memungkinkan komunikasi langsung antar Kodam. Secara Taktis administrasi Komsat di bina oleh Satkomlek Mabes ABRI.

f. Komunikasi Makodam VII/Wrb-Mabesad/Mabes ABRI.

1) Komunikasi antara Kodam VII/Wrb dengan Mabesad dilaksanakan melelui jaring Minlog III dengan sarana komunikasi radio ISB/NEC dan selanjutnya diganti radio Collins dengan RX type 75 F dan TX type 32 F. Radio Collins merupaka hasil kerja sama antara Indonesia dan Amerika (US DLG). Sampai akhir tahun 1985 jaring Minlog III tidak pernah berfungsi dengan baik karena radionya mengalami gangguan. Untuk mengatasi sementara di Makodam VII/Wrb menggelar radio TRC 342. Disamping komunikasi radio tersebut diatas, tersedia sarana lain seperti Telex Perumtel merk Siemens T-1000, Telecopier dan sarana Komsat ABRI.

2) Komunikasi antara Kodam VII/Wrb dengan Mabes ABRI menggunakan sarana radio utama TRC 342 dan sarana Telex Komsat ABRI.

PERKEMBANGAN SARANA/GELAR KOMUNIKASI SAMPAI SEKARANG

Diawali dengan reorganisasi Kodam, maka Kodam XIII/Mdk dan Kodam XIV/Hn disatukan menjadi Kodam VII/Wrb. Dari segi organisasi mengecil, tetapi gelar komunikasi yang bertambah luas. Perkembangan sarana komunikasi yang semakin canggi mempengaruhi perkembangan sarana komunikasi yang dimiliki ABRI. Perkembangan sarana komunikasi di

jajaran Kodam VII/Wrb tersebut disamping membawa banyak kemudahan juga menuntut bagi operator untuk keseimbangan perkembangan teknologi harus didukung melalui peningkatan kwalitas untuk penanganannya.

Perkembangan sarana / gelar komunikasi yang terjadi sbb :

a. Komunikasi wilayah tidak mengalami perubahan gelar komunikasi, sehingga sama dengan gelar komunikasi pada akhir tahun 1985. Walaupun demikian telah diadakan penambahan sarana komunikasi dan penyempunaan salah satu jaring radio Kodim-Koramil sbb :

1) Instalasi repeater baru di Koramil 1425-02/Kelara pada tahun 1986, karena salah satu Koramil dari empat Koramil di Kodim 1425/Jeneponto tidak dapat lagi berkomunikasi secara langsung dengan Makodim 1425, setelah pembangunan Makodim 1425 selesai.

2) Setiap Makorem dilengkapi dengan radio TRC 342/340. Khusus Makorem 131/Stg, radio TRC 342 digunakan untuk hubungan ke Makodam VII/Wrb sedangkan untuk Korem lainnya digunakan sebagai cadangan jaring komunikasi wilayah dan juga digunakan bila ada tugas khusus (AMD, Bhakti TNI).

3) Penambahan sarana komunikasi Telex Siemens T.1000 dilaksanakan pada tahun 1987 di Makorem 132, 141 dan 142. Dengan demikian seluruh Makorem di jajaran Kodam VII/Wrb sudah memiliki pesawat Telex.

b. Komunikasi Markas. Perkembangan sarana gelarkom Markas sbb:

1) STO/WB. Pemasangan STO Ericson ASB 100 dengan kapasitas 20 mata sambungan di Makorem 132 dan Makorem 142 pada tahun 1987.

Sesuai PPM Dirhubad, STO di maksud sebetulnya bukan untuk Makorem 142 tetapi untuk Makorem 141/Bone. Karena di Watampone masih menggunakan telepon manual (bukan otomat) dan STO otomat di Makorem 142 merk Utumat rusak, atas dasar izin Dirhubad maka STO jatah Makorem 141 dialihkan ke Makorem 142. Disamping itu dilaksanakan pengembangan STO Makodam VII/Wrb pada akhir tahun anggaran 1987/1988 dari 100 mata sambungan menjadi 150 mata sambungan.

Dengan demikian semua Kadis/Jan dan Staf yang berada di Makodam telah dilengkapi dengan pesawat telepon. Khusus Yonif Linud 700 telah menerima pesawat WB 1031 satu set, dengan pesawat telepon TP 6 sebanyak 6 buah dan telah digelar di Mayonif Linud 700 pada bulan Nopember 1987.

2) Radio Pangkalan. Markas Satpur/Banpur maupun Disjan yang mengalami perkmbangan sarana komunikasi radio sbb :

a) Jaring kominikasi Markas Yonif 726 ditata kembali dengan radio SS-4 pada tanggal 21 Agustus 1988 untuk hubungan antara Mayonif di Bulujaya (Takalar) dengan Ki A di Lappacendrana dan Ki C di Sanrego.

Pesawat yang digunakan sebelumnya adalah radio Racal, karena radio tersebut akan di gunakan mendukung tugas operasi di Tim-Tim, maka diganti dengan radio AM SS-4/TWC.

b) Jaring komunikasi pangkalan Yon Zipur 8 yang digelar di Ujung Pandag dengan Ki Zipur di Sakeang (Maros) pada tanggal 15 Agustus 1987 dengan radio PRC 77.

c) Pemasangan radio antara Mapaldam VII/Wrb di Makassar dengan Gupusmu/Gudmurah di Bantimurung (Maros) pada bulan September 1987 dengan radio AM HM 201.

c. Komunikasi Operasi. Selama periode tahun 1985 s/d 1988 untuk Satpur/Banpur pada umumnya tidak mengalami perubahan/ penambahan Alkom kecuali untuk Yonif Linud 700 dalam rangka pembulatan yaitu penambahan satu set radio Racal PRM 4021 sehingga TOP Yonif Linud 700 (Pasmob Kodam VII/Wrb) menjadi 12 set Ki set dan 22 set Ton set sesuai Rdg Dirhubad No. STR/57/1988 tanggal 10-10-1988.

d. Komunikasi Khusus. Perkembangan sarana komunikasi khusus sampai akhir tahun 1988 sbb :

1) Kominikasi Pam Kota/VIP. Sarana komunikasi Pam Kota/VIP yang telah diterima sbb :

a) HT 500 UHF Motorola diterima tanggal 21-01-1988.

(1) HT TRX = 28 Set

(2) Repeater = 1 Unit

(3) Base Stasiun = 1 Unit

(4) Mobil Radio = 1 Set.

(5) Multi Charger = 2 Set

(6) Single Charger = 16 Buah

Telah dioperasikan di Kota Makassar untuk melengkapi HT 220 Motorola. Hasil uji coba setelah dilaksanakan penambahan ketinggian antena repeater 5 meter, cukup efektif untuk menjangkau seluruh daerah Kota Makassar bahkan sampai dengan kota Pangkep + 70 Km arah Utara, kota Malino + 80 Km arah Timur dan perbatasan Takalar/Jeneponto + 55 Km arah Selatan.

b) HT-500 VHF Motorola diterim tanggal 24-8-1988.

(1) HT TRX = 24 Set

(2) Repeater = 1 Unit

(3) Base Stasion = 1 Unit

(4) Mobil Radio = 1 Unit

(5) Multi Charger = 22 Set

(6) Single Charger = 16 Set

Pesawat ini dialokasikan untuk komunikasi pengamanan kota/VIP di Kendari (Sultra). Sesuai kebijakan Komando, Alkom tersebut untuk sementara belum di distribusikan (sebagai cadangan daerah) dan dapat digunakan di seluruh kota/daerah Kodam VII/Wrb bila diperlukan, khususnya dalam rangka Pam VIP/VVIP.

c) Alkom Dakhura. Sarana komunikasi untuk Den Dakhura Kodam adalah HT/VHF Bowitz sejumlah 39 set pada tahun anggaran 1987/1988 dari Mabes ABRI. Den Dakhura yang sudah dilengkapi Alkom jenis ini adalah Den Dakhura dari Yonif Linud 700 sejumlah 10 set. Jarak jangkauan relatip pendek dan untuk medan yang terbuka. Hasil uji coba jangkauan epektif antara 400 ms/d 1 Km.

2) Komunikasi Deniniteldam VII/Wrb. Perkembangan sarana dan gelar komunikasi jajaran Deninteldam sbb :

a) Komunikasi Madeninteldam VII/Wrb dengan Ton Intelrem telah digelar pada tahun anggaran 1986/1987 dengan memanfaatkan Alkom eks Deninteldam XIII/Mdk dan Deninteldam XIV/Hn. Jenis Alkom yang di gunakan antara lain GSB 900 Sun Air dan Racal PRM 4021.

b) Untuk kelancaran operasional Tim Lap Ton Intelrem maupun Deninteldam di lengkapi Alkom sbb :

(1) Pada tahun angaran 1986/1987 Ton Intelrem 141/Bone, Rem 142/Pare-Pare dan Ton Intelrem 143/Kendari telah dilengkapi masing-masing dengan 5 buah HT/VHP RFC FM 400 dan satu buah repeater.

(2) Pada akhir tahun 1987 Deninteldam menerima tambahan HT VHF Kenwood TK 300 sejumlah 39 buah dengan 6 buah repeater. Masing-masing untuk Ton Intelrem menerima 6 buah HT dan 1 buah repeater, sisanya 9 buah untuk Madeninteldam. Baik HT RCA maupun RFC dapat diintegrasikan dengan HT Kenwood.

3) Komunikasi Pomdam VII/Wrb. Pomdam VII/Wrb telah menerima empat buah sepeda motor dilengkapi dengan radio RFC type FM 400/1 AT 425.

4) Komunikasi Kerkamtas RI-RP. Perkembangan sarana/gelar komunikasi untuk BCA adalah pada awal September 1988 telah menerima Alkom dari Satkomlek Mabes ABRI terdiri dari dua set KWM 2 A, 8 set radio Racal PRM 430, 6 set SC 130 dan dua set HT beserta repeater VHF GE satu unit. Radio tersebut direncanakan untuk megganti radio pada pos lintas batas di jajaran RI termasuk untuk mengganti radio di pos Davao dan Batuganding, untuk Korem 131/Manado dan untuk penyempurnaan radio di Lantamal Bitung.

e. Komunikasi Makodam VII/Wrb dengan Mabes TNI / AD. Guna mengganti radio jaring Minlog III yang rusak, telah diterima pesawat HF SSB merk ITT Makay pada tahun anggaran 1986/1987 terdiri dari :

1) Pemancar.

a) HF Exsiter type MSR 6700.

b) Linter Amplifier 1 Kw type MSR 1020.

c) Power Suply type MSR 6212.

2) Penerima.

a) Penerima type MSR 5050.

b) Preselector type MSR 6300.

3) Operator Control.

a) Lincoplex TX 30 B.

b) Comsenection Controle ATR 10.

c) Selective Call ATR 7.

d) Exciter Remote Control Unit MSR 6404.

e) Audio Control Panel MSR 6416.

f) Modem MSR 6504.

g) Teleprinter type 10-3000.

4) Antena Log Periodic.

5) Radio Link merk Plesey type PRD 1100 MK II, frekuensi 1427-1535 Mhz dan Antena Jay Beam.

Semua peralatan sudah terpasang / diinstalasi sesuai rencana oleh teknisi Hubdam, radio jenis ini dapat digunaka untuk telepon, CW dan Telex.

Pada 1988 melaksanakan pemasangan antena Parabola di daerah-daerah terpencil / pelosok diwilayah Sulawesi yang belum terjangkau siaran TV, setiap daerah terpencil dipasang 1 set parabola hasil sumbangan dari Gubernur, Pangdam VII/Wrb dan tokoh masyarakat.

Melaksanakan koordinasi dengan Orari untuk menyatukan komunikasi se Sulawesi sampai dengan mengadakan lomba antar Orari se Sulawesi yang dilaksanakan di Makassar dan Manado secara bergantian yang mulai dilaksanakan pada tahun 1992.

Dan ikut serta dalam pelaksanaan rapat koordinasi dengan BCA setiap tahun antar Indonesia dan Philifina.

Pada tahun 1994 Hubdam VII/Wrb mulai merintis pembikinan Sound System dan pengadaan elekton untuk hiburan dan olah raga. Pengintalasi Radio KC 101 F ke daerah-daerah dengan repeater HT KC. Penginstalasian repeater HT KC dan repeater Motorola canal 5 untuk dipakai gabungan TNI-Polri serta repeater di Dodik Latpur Rindam VII/Wrb. Hubdam VII/Wrb turut membantu Kodam VII/Wrb dalam pembentukan Yonif 700/Raider yang dilaksanakan pada tahun 2003.

Dalam rangka menjaga keutuhan NKRI dilaksanakan pemasangan telepon di Miangas dan Marore serta pembinaan Banteng Komando di bidang komunikasi dan penginstalasian repeater di Gunung Lompobattang.

Dalam perkembangannya Hubdam VII/Wrb selalu mendukung Alkom dalam penyelenggaraan antara lain sbb :

a. Menyelenggarakan dukungan komunikasi dalam rangka pemilu tahun 1987, 1992 dan 1997/1998.

 b. Melaksanakan penataan Organisasi selaras dengan Reorganisasi dan Validasi Satuan Hubdam VII/Wrb yang efetif dan efisien meliputi pengisian, penempatan personel dalam jabatan dan piranti lunak sesuai struktur Organisasi Hubdam VII/Wrb.

 c. Dalam rangka alih teknologi khususnya dibidang Komunikasi Komputer, secara bertahap mulai dilaksanakan pengoperasionalan Program Lap Link, I-Telex dan selanjutnya ke Telkomex.

 d. Dalam rangka menjaga integritas NKRI khususnya pengamanan pulau-pulau terluar di wilayah Kodam VII/Wrb telah dilakukan pemenuhan Alhub dan jaring komunikasi di pos-pos pulau perbatasan antara RI – Philipina (pulau Miangas, Marore, Marampit dan pulau luar lainnya).

Iklan